Dukun Cilik Ponari
Ponari akhirnya kembali sekolah setelah absen lebih dari satu bulan karena kesibukannya sebagai dukun cilik. Tak tanggung-tanggung, Miharso, Kepala Sekolah Dasar Negeri Satu Balongsari yang datang sendiri menjemput dan mengendong Ponari.
Perlakuan istiwewa berlanjut di dalam kelas. Ponari kerap melakukan sesuatu yang tak lazim dilakukan siswa saat belajar, namun sang guru tidak menegur. Di luar sekolah, polisi berjaga-jaga supaya orang-orang yang ingin berobat tak sampai mengganggu belajar Ponari [baca: Ponari Bersekolah Lagi].
Sejak sebulan lalu, puluhan ribu orang mendatangi Desa Balongsari, Megaluh, Jombang, Jawa Timur, demi berobat dari air yang dicelup batu milik Ponari. Bahkan, sejumlah pengunjung meninggal akibat kelelahan. Polisi akhirnya meminta praktik pengobatan dihentikan. Langkah ini sontak menuai protes para pengunjung.
Sejak adanya aktivitas pengobatan Ponari, warga membentuk panitia yang melibatkan hampir 300 warga Desa Balongsari. Sebagai imbalan, kotak amal disediakan dan hasilnya bisa mencapai Rp 20 juta hingga Rp 50 juta per hari. Sementara Ponari terus mencelupkan batunya ke puluhan ribu orang yang berharap kesembuhan [baca: Pengobatan Dukun Cilik Ponari Dibuka Kembali]
Di luar dugaan, sesuatu yang mengagetkan terjadi. Aksi kekerasan menimpa Kasim, ayah Ponari, hingga harus dirawat di rumah sakit. Polisi segera memeriksa beberapa saksi, termasuk Senen, kakek Ponari. Dawuk tetangga Ponari pun ikut dituding menganiaya Kamsin karena berebut Ponari. Ironisnya, Dawuk datang ditemani Komariah yang tak lain istri Kasmin
Siapakah sesungguhnya Ponari? Dukun cilik sakti atau hanya seorang anak kecil di pusaran absurditas zaman?
Saya ndak tahu. Kabar yang berseliweran menyebutkan bocah lelaki berusia 10 tahun dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, itu memiliki sepotong batu yang dipercayai mampu menyembuhkan aneka macam penyakit.
Entah bagaimana caranya, kabar kedigdayaan batu itu cepat menyebar. Orang berbondong-bondong datang meminta pertolongan kepada Ponari dan batu ajaibnya itu.
Pasiennya membanjir dari delapan penjuru angin. Surya Online melaporkan, “Jika sebelumnya rata-rata pengunjung 5.000-9.000, kemarin diperkirakan mencapai sekitar 15.000 orang.”
Dalam waktu sekejap, tak sampai sebulan, Ponari menjelma jadi sebuah brand yang menasional — mungkin efek viral marketing tanpa disengaja. Ia bagaikan sebuah mantra ajaib bagi mereka yang memercayai. Obat bagi sembarang penyakit.
“Membludaknya pengunjung juga bisa dilihat dari banyaknya sepeda motor dan mobil yang diparkir di jalan-jalan desa. Massa dan kendaraan yang parkir memenuhi radius sekitar satu kilometer dari rumah keluarga Ponari” — Surya Online.
Dari mana batu ajaib itu diperoleh? Konon batu ajaib berbentuk kepala belut sebesar kepalan tangan tersebut didapat awal Januari lalu, ketika Ponari disambar kilat.
Tapi, Selasa dua hari yang lalu, Ponari jatuh sakit. Ia terserang demam setelah kecapekan mencelupkan batu yang dipegangnya dalam botol air sebagai media penyembuhan.
Anehnya, dia justru tak memanfaatkan batu ajaib itu untuk mengobati dirinya sendiri. Keluarga Ponari membawanya ke meja praktek dokter di rumah sakit. Paradoks, eh?
Popularitas Ponari juga menelan korban. Empat orang meninggal, bukan karena menenggak air yang sudah dicelup batu ajaib itu, melainkan akibat terinjak-injak pasien yang berdesak-desakan.
Polisi lalu menutup praktek pengobatan Ponari untuk sementara waktu. Orang tua Ponari setuju. Di depan Bupati Jombang, orangtua Ponari bahkan terus terang menyatakan ingin berhenti melayani pengobatan supaya sang anak bisa meneruskan sekolah lagi. Ponari masih duduk di bangku kelas tiga SD.
Meneruskan sekolah? Betapa mengharukan dan polos sekali jawaban itu. Kita layak menghargai keputusan itu.
Anak-anak, bagaimanapun ajaibnya mereka, toh berhak menikmati masa kecil mereka selayaknya, termasuk hak mendapatkan pendidikan.
Ponari mungkin mendatangkan manfaat buat banyak orang, juga tetangga dan seluruh isi kampungnya. Tapi, orang sering lupa, dia juga berhak mendapatkan kebutuhannya sendiri.
Di tengah kondisi pendidikan Indonesia yang tak terlalu berpihak pada anak-anak kurang mampu, Ponari harus terus kita dorong untuk terus menimba ilmu lebih tinggi lagi.
Kita tentu tak ingin nasib Ponari berakhir seperti kebanyakan anak Indonesia yang terpaksa berhenti sekolah lantaran tak punya biaya. Mereka berada di jalanan dan menjadi sasaran empuk jaringan perdagangan anak.
Sudah saatnya kita semua peduli pada persoalan pendidikan anak-anak tak mampu, seperti yang telah ditunjukkan oleh Samsung Electronics Indonesia yang memiliki program sosial, Samsung Hope.
Samsung Hope adalah program untuk meningkatkan kesadaran sosial. Caranya, dengan mengajak masyarakat memberi kontribusi langsung. Fokus utama program ini adalah memberi pembekalan kepada generasi masa depan.
Lewat Samsung Hope, Samsung ingin mengajak anak-anak kurang mampu untuk membayangkan masa depan mereka, serta menyadarkan potensi besar yang mereka miliki dan mewujudkannya secara nyata.
Sampean juga dapat berpartisipasi secara daring (online) dalam program sosial Samsung Hope ini dengan mengunjungi situs mereka. Bantuan sampean, sekecil apa pun, niscaya sangat bermanfaat bagi kehidupan dan pendidikan anak-anak Indonesia.
Kemarin menemukan sebuah gambar plesetan iklan yang lumayan lucu. Judulnya Ponari Sweat, perpaduan nama dukun cilik dari Jombang dengan sebuah produk minuman kesehatan.

ponari-sweat
Gambar PONARI SWEAT, ion water from jombang ini aslinya dari sini.Itu cuma plesetan lho jangan dicari di toko2
Konon kekuatan Ponari karena terkena petir (berarti mirip Gundala Putra Petir atau Flash Gordon hehe ) dan mendapatkan sebuah batu yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Percaya tidak percaya namun praktek pengobatannya laris manis. Menyedot banyak pengunjung, bahkan sampai menyebabkan beberapa pengantri tewas.
ponari-sweat3
Brewokan aja minumnya Ponari Sweat. Sumbernya dari sini
Kepopuleran Ponari ternyata membawa ide bagi tetangganya untuk membuka pengobatan juga. Yang bertugas menjadi dukun masih anak2 berumur 12 tahun bernama Dewi. Media pengobatannya ternyata juga memakai batu.
ponari-sweat-2
Ponari Sweat versi sachet juga tersedia. hehe
Terkadang orang memang lebih percaya hal2 mistik daripada yang nalar. Mungkin juga karena tarif Ponari lebih terjangkau daripada berobat di dokter, walaupun tingkat kesembuhannya masih simpang siur dan bertentangan dengan agama.
Sebenarnya ada batu yang lebih sakti daripada batu Ponari. Tidak hanya bisa menyembuhkan penyakit tapi juga bisa membeli apapun keinginan pemiliknya. Namanya adalah batubara, kalau dijual harganya bisa milyaran
mkasih atas informasi terbaru tentang ponari. kasihan juga kalau ponari harus terus bekerja, dia masih butuh sekolah. tapi saya minta tolong, tolong carikan informasi lebih lanjut tentang rencana ponari yang akan menenggelamkan batu saktinya ke titik pusat pemyemburan lumpur panas lampido. dan kenapa harus hanya ponari saja yang wajib menengglamkanya sendiri di titik pusat semburan. lalu jika batu itu di buang selmanya di titik pusat lumpur lapindo bagaimana nasib ponari dan pasien – pasien selanjutnya. terima kasih
eSpeYe
wah dihari H+30, Ponari sudah jarang muncul di media massa…
sudah pada ganti topik ke Pemilu
kalo ada info lagi, ntar saya kabari…